Kamis, 28 Oktober 2010

PENENTUAN HARGA TRANSFER

Pemikiran organisasi modern berorientasi pada desentralisasi. Salah satu tantangan utama dalam mengoperasikan system yang terdesentralisasi adalah merancang suatu metode akuntansi yang memuaskan untuk transfer barang dan jasa dari pusat laba yang satu ke pusat laba yang lain dalam perusahaan yang memiliki transaksi seperti ini dalam jumlah yang signifikan.
Tujuan Penentuan Harga Transfer
Harga transfer merupakan mekanisme untuk mendistribusikan pendapatan ini. Harga transfer harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan berikut ini :
• Memberikan informasi yang relevan kepada masing-masing unit usaha untuk menentukan timbale balik yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan.
• Menghasilkan keputusan yang selaran dengan cita-cita, maksudnya system laba harus dirancang sedemikian rupa sehingga keputusan yang meningkatkan laba unit usaha akan meningkatkan laba perusahaan.
• Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari unit usaha individual.
• System tersebut harus mudah dipahami dan dikelola.
Metode penentuan Harga Transfer
Beberapa penulis mengunakan istilah harga transfer untuk mengacu pada jumlah yang digunakan dlam akuntansi untuk semua transfer barang dan jasa antarpusat tanggung jawab. Buku ini menggunakan istilah yang lebih sempit dan membatasi istilah harga transfer pada nilai yang diberikan atas suatu transfer barang atau jasa dalam suatu transaksi dimana setidaknya salah satu dari pihak yang terlibat adalah pusat laba. Oleh karena itu, unsure mekanik untuk mengalokasikan biaya dalam system akuntansi biaya akan dikeluarkan, karena biaya semacam ini tidak memasukkan elemen laba. Istilah laba yang digunakan disini memiliki arti yang sama dengan yang digunakan berkaitan dengan transaksi antar perusahaan independen.
1. Prinsip Dasar
Prinsip dasarnya adalah bahwa harga transfer sebaiknya serupa dengan harga yang akan dikenakan seandainya produk tersebut dijual ke konsumen luar atau dikenakan seandainya produk tersebut dijual ke konsumen luar atau dibeli dari pemasok luar. Melaksanakan prinsip ini merupakan hal yang sulit, keaena adanya fakta bahwa terdapat banyak pertentangan dalam literature mengenai bagaimana harga jual ke pihak luar ditentukan.
System harga transfer dapat bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit, tergantung dari sifat usahanya. Pembahasan dimulai dari situasi yang ideal, kemungkinan baru melangkah ke situasi yang lebih sulit.
2. Situasi Ideal
Harga transfer berdasarkan harga pasar akan menghasilkan keselarasan cita-cita jikakondisi-kondisi di bawah ini ada. Dalam praktiknya, kondisi-kondisi tersebut sangat jarang ada.
a. Orang-orang yang kompeten
Idealnya, para manajer harus memperhatikan kinerja jangka panjang dari pusat tanggung jawab mereka, sama seperti kinerja jangka pendeknya.
b. Atmosfer yang baik
Para manajer harus bias menjadikan profitabilitas, sebagaimana diukur dalam laporan laba-rugi mereka, sebagaimana cita-cita yang penting dalam pertimbangan yang signifikan dalam penilaian kinerja mereka.
c. Harga pasar
Harga transfer yang ideal adalah berdasarkan harga pasar normal dan mapan dari produk identik yang ditransfer, maksudnya harga pasar mencerminkan kondisi yang sama dengan produk yang dikenakan harga transfer.
d. Kebebesan memperoleh sumber daya
Alternate dalam memperoleh sumber daya haruslah ada, dan para manajer sebaiknya diizinkan untuk memilih yang paling baik untuk mereka. Manajer pembelian harus bebas untuk membeli dari pihak luar, dan manajer penjualan harus bebas untuk menjual ke pihak luar.
e. Informasi penuh
Para manajer harus mengetahui semua alternative yang ada, serta biaya dan pendapatan yang relevan dari masing-masing alternative tersebut.
f. Negosiasi
Harus ada mekanisme kerja yang berjalan lancer untuk melakukan negosiasi kontrak antarunit usaha.
Jika semua kondisi di atas terpenuhi, maka system harga transfer berdasarkan harga pasar dapat menghasilkan keselarasan cita-cita, dan tidak membutuhkan administrasi pusat.
Hambatan-Hambatan Dalam Perolehan Sumber Daya
Idealnya, seorang manajer pembelian bebas untuk mengambil keputusan mengenai perolehan sumber daya. Meskipun demikian, dalam kehidupan nyata, kebebesan dalam perolehan sumber daya tidak selalu mngkin dilakukan atau jika hal itu mungkin, dibatasi oleh kebijakan-kebijakan korporat. Sekarang akan dipertimbangkan situasi dimana manajer pusat laba tidak memiliki kebebasan dalam pengambilan keputusan tersebut dan akibat-akibat yang terjadi dengan adanya hambatan dalam perolehan sumber daya pada kebijakan harga transfer yang ada.
a. Pasar yang terbatas
Dalam banyak perusahaan, pasar bagi pusat laba penjual ataupun pembeli dapat saja sangat terbatas, alasannya :
• Keberadaan kapasitas internal mungkin membatasi pengembangan penjualan eksternal. Jika hampir semua perusahaan besar dalam suatu industry sangat terintegrasi, seperti pada industry pulp dan kertas, maka ada kecenderungan sedikitnya kapasitas produksi yang independen untuk produk-produk menengah. Dengan demikian, para produsen tersebut hanya mampu menengani jumlah yang terbatas saja dari permintaan produsen lain.
• Jika suatu perusahaan merupakan produsen tunggal dari produk yang terdeferensiasi, tidak ada sumber daya dari luar.
• Jika suatu perusahaan telah melakukan investasi yang besar, maka perusahaan cenderung tidak akan mengunakan sumber daya dari luar kecuali harga jual di luar mendekati biaya variable perusahaan, dimana hal ini jarang terjadi.
Bagaimana suatu perusahaan dapat mengetahui tingkat harga kompetitif jika perusahaan tersebut tidak membeli atau menjual produknya ke pasar bebas ?
• Jika ada harga pasar yang diterbitkan, maka harga tersebut dapat digunakan untuk menentukan harga transfer. Tetapi terbitan tersebut harus merupakan harga yang benar-benar dibayarkan di pasar bebas, dan kondisi yang ada di pasar bebas harus konsisten dengan kondisi yang ada di dalam perusahaan.
• Harga pasar mungkin ditentukan berdasarkan penawaran. Hal ini umumnya dapat dilakukan hanya jika penawaran terendah masih memiliki peluang untuk memenangkan bisnis tersebut.
• Jika pusat laba produksi menjual produk yang serupa di pasar bebas, maka pusat tersebut seringkali meniru harga kompetitif berdasarkan harga di luar.
• Jika pusat laba pembelian membeli produk yang serupa dari pasar bebas,maka pusat laba tersebut dapat meniru harga kompetitif untuk produk-produk eksklusifnya.

b. Kelebihan atau kekurangan kapasitas industry
Misalnya jika pusat laba penjualan tidak dapat menjual seluruh produk ke pasar bebas, dengan kata lain, pusat laba tersebut memiliki kapasitas yang berlebih. Perusahaan mungkin tidak akan mengoptimalkan labanya jika pusat laba pembelian membeli produk dari pemasok luar sementara kapasitas produksi di dalam masih memadai.
Sebaliknya, jika puat laba pembelian tidak dapat memperoleh produk yang diperlukan dari luar sementara pusat laba penjualan menjual produknya ke pihak luar. Situasi tersebut terjadi ketika terdapat kekurangan kapasitas produksi di dalam industry. Dalam kasus ini, output dari pusat laba pembelian terhalang dan kembali, laba perusahaan tidak dapat optimal.
Yang harus diperhatikan dalam kasus ini adalah : denga adanya pilhan tersebut, pusat laba pembelian di beberapa perusahaan tersebut akan lebih memilih untuk berurusan dengan phak luar perusahaan. Salah satu alas an adalah anggapan bahwa pihak luar memberikan pelayanan yang lebih baik.
Meskipun ada hambatan dalam perolehan sumber daya, harga pasar tetap merupakan harga transfer yang baik. Jika harga pasar tersedia atau dapat diperkirakan maka gunakan itu. Meskipun demikian, jika tidak ada cara untuk memperkirakan harga kompetitif, pilihan lainnya adalah mengembangkan harga transfer berdasarkan biaya.
Harga Transfer Berdasarkan Biaya
Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka harga transfer dapat ditentukan berdasar biaya ditambah laba, meskipun harga transfer ini sangat rumit untuk dihitung dan hasilnya kurang memuaskan disbanding harga berdasarkan harga pasar.
a. Dasar Biaya
Dasar yang umum adalah biaya standar. Biaya actual tidak boleh digunakan karena factor inefisiensi produksi akan diteruskan ke pusat laba pembelian.
b. Markup Laba
Dalam menghitung markup laba, juga terdapat dua keputusan : (1) dasar markup laba tersebut, dan (2) tingkat laba yang diperbolrhkan.
Dasar yang paling mudah dan umum dipergunakan adalah persentase dari biaya. Meskipun demikian, jika dasar tersebut digunakan maka tidak ada pertimbangan atas modal yang diperlukan.
Masalah kedua dalam penyisihan laba adalah besarnya jumlah laba. Persepsi manajemen senior atas kinerja keuangan dari pusat laba akan dipengaruhi oleh laba yang ditunjukkan oleh pusat laba tersebut. Konsekuensi, jika mungkin, penyisihan laba harus dapat mendekati tingkat pengembalian yang akan diperoleh seandainya unit usaha tersebut merupakan perusahaan independen yang menjual produknya ke konsumen luar.
Biaya Tetap Dan Laba Hulu
Penetapan harga transfer dapat menimbulkan permasalahan yang cukup serius dalam perusahaan yang terintegrasi. Pusat laba yang pada ahirnya menjualproduk ke pihak luar mungkin tidak menyadari jumlah biaya tetap dan laba bagian hulu yang terkandung di dalam harga pembelian internal.
a. Persetujuan Antarunit Usaha
Beberapa perusahaan membuat mekanisme formal dimana wakil-wakil dari unit pembelian dan penjualan bertemu secara berkala untuk memutuskan harga penjualan ke pihak luar dan pembagian laba untuk produk-produk dengan biaya tetap dan laba bagian hulu yang signifikan.
b. Dua Langkah Penentuan Harga
Cara lain untuk mengetahui masalah ini adalah dengan membuat harga transfer yang meliputu dua beban. Pertama, untuk setiap unit yang terjual, pembebanan biaya dilakukan dalam jumlah yang sama dengan biaya variable standar produksi. Kedua, pembebanan biaya berkala dilakukan dalam jumlah yang sama dengan biaya tetap yang berkaitan dengan fasilitas yang tersedia untuk unit pembelian. Salah satu atau kedua komponen tersebut harus memasukkan margin laba.


Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menerapkan metode penentuan harga dua langkah:
• Pembebanan biaya per bulan untuk biaya tetap dan laba harus dinegoisasikan secara berkala dan bergantung dari kapasitas yang digunakan oleh unit pembelian.
• Pertanyaan mungkin akan timbul mengenai keakuratan alokasi investasi dan biaya. Dalam beberapa situasi, mengalokasikan biaya dan asset kepada produk secara individual tidaklah sulit. Dalam kejadian manapun, keakuratan yang mendekati adalah cukup memadai. Jika kapasitas yang disediakan untuk berbagai jenis produk dijual ke unit usaha yang sama, maka tidak perlu mengalokasikan biaya tetap dan investasi ke produk individual dalam kelompok tersebut.
• Dengan sistem penentuan harga ini, kinerja laba dari unit produksi tidak dipengaruhi volume penjualan dari unit final.
• Mungkin terdapat konflik antara kepentingan dari unit produksi dengan kepentingan perusahaan. Jika kapasitas terbatas, unit produksi dapat meningkatkan laba dengan cara menggunakan kapasitasnya untuk memproduksi bagian untuk dijual ke pihak luar, jika hal tersebut menguntungkan.
• Metode ini mirip dengan penentuan harga “ambil atau bayar (take or pay)” yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan saran umum, saluran pipa, dan tambang batubara, serta dalam kontrak jangka panjang lainnya.
Pembagian Laba
Jika sistem penentuan harga dua langkah yang baru saja diperlihatkan tidak dapat digunakan, maka sistem pembagian laba (profit sharing) dapat digunakan untuk memastikan keselarasan antara kepentingan unit usaha dan perusahaan. Sistem tersebut beroperasi dengan cara sebagai berikut:
1. Produk tersebut ditransfer ke unit pemasaran pada biaya variabel standar
2. Setelah produk tersebut terjual, unit-unit usaha membagi kontribusi yang dihasilkan, yang merupakan harga penjualan dikurangi biaya variabel produksi dan pemasaran.

Dua Kelompok Harga
Pendapatan unit produksi akan dikreditkan pada harga jual ke luar dan unit pembelian dengan total biaya standar. Metode penentuan harga transfer ini terkadang digunakan ketika ada konflik antara unit pembelian dan penjualan yang tidak dapat diselesaikan oleh metode yang lain. Baik unit pembelian maupun penjualan memperoleh manfaat dari metode ini.
Penentuan Harga Jasa Korporat
Pada bagian ini akandigambarkan beberapa masalah yang berkaitan dengan pembebanan unit usaha atas jasa-jasa yang disediakan oleh unit staf korporat. Seperti yang telah dijelaskan dalam bab 5, jika seluruh biaya ini dibebankan, maka itu semua biaya tersebut akan dialokasikan, dan alokasi tidak memasukkan komponen laba. Alokasi juga bukan merupakan harga transfer.
Pengendalian atas jumlah jasa
Ada tiga teori pemikiran mengenai jasa-jasa seperti ini. Teori pertama menyatakan bahwa suatu unit usaha harus membayar biaya variabel standar dari jasa yang diberikan. Teori pemikiran yang kedua menyarankan harga yang sama dengan biaya variabel standar ditambah bagian yang wajar dan biaya tetap standar yaitu biaya penuh (full cost). Teori pemikiran yang ketiga menyarankan harga yang sama dengan harga pasar, atau biaya penuh standar (standar full cost) ditambah dengan margin labanya.
Pilihan Penggunaan Jasa
Dalam beberapa kasus, pihak manajemen mungkin memutuskan bahwa unit-unit usaha dapat memilih apakah menggunakan unit jasa sentral atau tidak. Unit-unit bisnis dapat memperoleh jasa tersebut tersebut dari pihak luar, mengembangkan kemampuan mereka, atau memilih untuk tidak menggunakan jasa ini sama sekali. Perjanjian semacam ini sering ditemukan untuk aktivitas-aktivitas seperti teknologi informasi, kelompok konsultasi internal, dan pekerjaan perawatan.
Kesederhanaan dari Mekanisme Harga
Harga yang dibebankan untuk jasa korporat tidak akan mencapai tujuan yang dimaksudkan, kecuali jika metode untuk menghitungnya dapat dimengerti dan dipahami dengan cukup mudah oleh para manajer unit usaha. Kadang ada kecenderungan untuk membebani para pengguna computer berdasarkan peraturan yang begitu rumit, sehingga pengguna tidak dapat mengerti apa dampaknya terhadap biaya, jika merekamemutuskan untuk menggunakan computer untuk aplikasi tertentu atau alternatifnya, untuk menghentikan aplikasi yang sekarang. Peraturan-peraturan semacam ini merupakan sesuatu yang kontraproduktif.
Administrasi Harga Transfer
Negoisasi
Di hampir semua perusahaan, unit usaha menegosisasikan harga transfer satu sama lain: maksudnya harga transfer yang tidak ditentukan oleh kelompok staf pusat. Alasan yang paling penting untuk hal ini adalah kepercayaan bahwa dengan menetapkan harga jual dan mencapai kesepakatan atas harga pembelian yang paling sesuai merupakan salah satu fungsi utama dari manajemen lini.
Unit-unit usaha harus mengetahui aturan dasar yang dijadikan patokan dalam melakukan negosiasi harga tersebut. Para manajer tidak boleh banyak menghabiskan waktu mereka untuk melakukan negosiasi harga transfer. Oleh karena itu, aturan tersebut harus mengatur sedemikian rupa supaya penentuan harga transfer tidak semata-mata ditentukan oleh keahlian individu dalam bernegosiasi. Tanpa adanya peraturan semacam ini, manajer yang paling keras kepala sekalipun akan melakukan negosiasi dengan harga yang paling pantas.
Arbitrase dan Penyelesaian Konflik
Bagaimanapun rincinya peraturan-peraturan penentuan harga, mungkin ada kasus di mana unit-unit usaha tidak dapat menyetujui harga tertentu. Untuk alas an tersebut, suatu prosedur harus dibuat untuk menengahi arbitrase harga transfer.
Arbitrase dapat dilakukan dengan beberapa cara. Dalam sistem yang formal, kedua pihak menyarankan kasus secara tertulis kepada pihak penengah/pendamai. Dalam sistem yang lebih informal, presentasi sebagian besar dilakukan secara lisan.
Adalah penting bahwa sekecil apapun arbitrase yang terjadi harus diselesaikan. Jika banyak arbitrase yang terjadi, hal ini menunjukkan bahwa peraturan yang ada masih kurang spesifik atau sulit dilaksanakan, atau pengelolaan unit usahanya tidak rasional. Selain tingkat formalitas arbitrase, jenis proses penyelesaian konflik yang digunakan juga mempengaruhi efektivitas suatu harga transfer. Terdpat empat cara untuk menyelesaikan konflik: memaksa, membujuk, menawarkan, dan penyelesaian masalah.
Klasifikasi Produk
Luas dan formalitas dari perolehan sumber daya dan peraturan-peraturan harga transfer bergantung pada banyaknya jumlah transfer dalam perusahaan dan ketersediaan pasar serta harga pasar. Jika harga pasar selalu siap sedia, maka perolehan sumber daya dapat dikendalikan dengan peninjauan kantor pusat atas keputusan buat atau beli yang melebihi jumlah tertentu.
Perolehan sumber daya untuk produk kelas I dapat diubah hanya dengan izin dari manajemen pusat. Perolehan sumber daya untuk produk kelas II ditentukan oleh unit-unit usaha yang terlibat. Dengan perjanjian semacam ini, pihak manajemen dapat berkonsentrasi pada perolehan sumber daya dan penetapan harga atas sejumlah kecil produk-produk bervolume besar. Peraturan untuk harga transfer akan dibuat dengan menggunakan berbagai metode yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar